Pengabdian

  • GSJA Eben Haezer
  • 12 May 2018
  • Like Jesus

Yohanes. 1:23-27.

Penghayatan akan makna pengabdian, pada gilirannya akan menuntun kita kepada perenungan  tentang jati diri kita, dan bukan lagi tentang aktivitas kita. Pengabdian dan jati diri sang pengabdi tidak dapat dipisahkan.  Suatu interelasi yang tidak dapat lepas.  Kita baru bisa mengabdi apabila kita sadar memahami jati diri kita sebagai seorang abdi.  Dan penghayatan yang benar tentang jati diri sebagai seorang  abdi, pada giliranya akan bermuara pada hidup yang penuh pengabdian. Pengabdian itu sendiri adalah jalan hidup yang dipilih oleh seorang “Abdi.”   Tidak ada sebutan lain yang cukup memadai itu mengerti konsep  ini, kecuali konsep tentang “jati diri” seorang hamba atau pelayan. Apabila kita memilih untuk memberikan hidup dalam pengabdian, sebenarnya kita tegah memilih untuk melepaskan diri kita, dan mengarahkan hidup kiita untuk sang Tuan, yaitu Kristus. Hal ini cukup kontras dengan kencendrungan alamiah manusia kita.  Abraham Maslow mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk “diakui.”   Muladi, “setiap kopral pasti ingin jadi jendral.” Mendabdikan diri sama saja seperti mengingkari naluri alamiah kita untuk di akui.  Tantangan pengadian diri sebenarnya justru terletak dalam diri kita sendiri.   Kita baru mampu menghayati pengaddian apabila kita telah mampu menghayati jati diri kita sebagai sang abdi Allah. Apabila kita mampu meresapi makna diri kita, maka pengabdian itu akan mengalir dalam hidup kita.